Kamis, 30 Mei 2013

MAKALAH SANITASI MAKANAN



BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia untuk melestarikan kehidupannya, yaitu tumbuh, berkembang dan bereproduksi. Untuk mendapatkan makanan tersebut diperoleh dengan cara berburu atau dengan cara bercocok tanam, sebagai lahan untuk berburu dan bercocok tanam tempatnya adalah lingkungan. Oleh karena itu makanan merupakan salah satu kajian dari pakar lingkungan.
Dalam kehidupan manusia dan setiap makhluk hidup, makanan mempunyai peranan penting dan peranan tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
  1. Setiap manusia memerlukan makanan untuk kelangsungan hidupnya.
  2. Manusia yang terpenuhi semua kebutuhan makanannya akan terlindung dan terjamin kesehatannya dan memiliki tenaga kerja yang produktif, dan sebagainya.
  3. Bahan makanan dapat merupakan media perkembang biakan kuman penyakit atau dapat juga merupakan media perantara dalam penyebaran suatu penyakit.
Berkenaan dengan peranannya dalam menimbulkan penyakit, makanan dapat digolongkan sebagai berikut:
1.    Secara alamiah makanan sudah mengandung bahan-bahan kimia yang beracun untuk dimakan. Misalnya: singkong jenis tertentu mengandung asam cyanida (HCN), jengkol mengandung asam jengkol, beberapa jenis ikan mengandung racun dalam tubuhnya.
2.    Sebagai media perkembang biakan mikroorganisme dan dapat dihasilkan toksin yang beracun bagi manusia. Mikroorganisme tertentu terdapat dimana-mana, sehingga kemungkinan suatu makanan dapat terkontaminasi adalah besar sekali. Hal ini menggambarkan manusia selalu bersaing dengan makhluk lain dalam hal mendapatkan makanan.
3.    Sebagai perantara penyebaran penyakit. Makanan mendapat kontaminasi oleh agen patogen melalui berbagai cara, sehingga penyakit dari satu orang dapat ditularkan kepada orang lain atau beberapa penyakit pada hewan dapat dipindahkan kepada manusia. 
B.   Rumusan Masalah
Sampai sekarang ini makanan menjadi masalah yang serius, karena produksi makanan tidak bisa mengimbangi lajunya pertumbuhan penduduk. Lajunya produksi makanan seperti deret hitung sementara laju pertumbuhan penduduk seperti deret ukur. Akibatnya timbul berbagai kasus kelaparan, penyakit-penyakit kurang gizi antara lain beri-beri, pallagra, anemi zat besi dan kurang vitamin A. Disamping persediaan makanan yang tidak memadai, faktor kemiskinan juga memperberat terjadinya kasus-kasus penyakit kurang gizi. Salah satu usaha untuk mengurangi kasus kekurangan makanan muncul gagasan supaya mencari sumber protein baru non agricultura atau membentuk suatu badan dunia mengurusi sumber daya pangan sedunia. 
C.   Tujuan Penulisan
Penulisan makalah yang berjudul ”Sanitasi Makanan” ini kiranya bertujuan untuk memberikan pengetahuan kepada publik agar lebih memahami dan mengerti tentang apa itu sanitasi makanan dan bagaimana cara pengelolaan makanan yang benar yang memungkinkan akan terjadinya kelangsungan hidup yang nyaman dan sehat.
























BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Sanitasi Makanan
Sanitasi makanan merupakan salah satu bagian yang penting, dalam segala aktivitas kesehatan masyarakat, mengingat adanya kemungkinan penyakit-penyakit akibat makanan. Kebiasaan-kebiasaan tradisionil dalam mengelola makanan masih menduduki posisi yang kuat di masyarakat kita selama belum ada cara pengganti yang berkenan.
Dasar pengertian yang dianut hingga sekarang dalam penyelenggaraan usaha-usaha kesehatan masyarakat adalah definisi kesehatan masyarakat menurut Winslow. Disini jelas bahwa sanitasi lingkungan merupakan bagian dari kesehatan masyarakat.
Sanitasi makanan meliputi kegiatan usaha yang ditujukan kepada kebersihan dan kemurnian makanan agar tidak menimbulkan penyakit. Kemurnian disini dimaksudkan murni menurut penglihatan maupun rasa.
Usaha-usaha sanitasi tersebut meliputi tindakan-tindakan saniter yang ditujukan pada semua tingkatan, sejak makanan mulai dibeli, disimpan, diolah dan disajikan untuk melindungi agar konsumen tidak dirugikan kesehatannya.
Usaha-usaha sanitasi meliputi kegiatan-kegiatan antara lain:
  1. Keamanan makanan dan minuman yang disediakan.
  2. Higiene perorangan dan prktek-praktek penanganan makanan oleh karyawan yang bersangkutan.
  3. Keamanan terhadap penyediaan air.
  4. Pengelolaan pembuangan air limbah dan kotoran.
  5. Perlindungan makanan terhadap kontaminasi selama dalam proses pengolahan, penyajian/peragaan dan penyimpanannya.
  6. Pencucian, kebersihan dan penyimpanan alat-alat/perlengkapan.
Makanan adalah semua substansi yang diperlukan tubuh. Menurut definisi WHO (1956) mengenai makanan, ditegaskan bahwa dalam batasan makanan tidak termasuk air, obat-obatan dan substansi-substansi yang dipergunakan untuk tujuan pengobatan. Walaupun air merupakan elemen vital dalam makanan manusia, akan tetapi air yang memenuhi syarat-syarat kesehatan memerlukan penanganan yang khusus.
Makanan, bila ditekankan fungsinya maka paling tidak harus memenuhi 2 dari 3 fungsi sebagai berikut ini:
  1. memberikan panas dan tenaga kepada tubuh
  2. membengun jaringan-jaringan tubuh baru, memelihara dan memperbaiki yang tua
  3. mengatur proses-proses alamiah, kimiawi atau faali dalam tubuh.
Air dimaksudkan pula dalam golongan makanan karena memenuhi fungsi nomor 2 dan 3, dan juga penting dalam pencernaan. Alkohol, kopi dan teh tidak dapat memenuhi 2 syarat diatas (hanya dapat menghasilkan panas dan tenaga) tapi untuk kepentingan sanitasi makanan (karena turut menghantarkan penyakit) maka digolongkan juga dalam makanan.
Sanitasi merupakan suatu usaha untuk menciptakan kondisi lingkungan hidup yang menyenangkan dan menguntungkan kesehatan masyarakat.
Istilah sanitasi dan higiene mempunyai tujuan yang sama, yaitu mengusahakan cara hidup sehat, sehingga terhindar dari penyakit. Tetapi dalam penerapannya mempunyai arti yang sedikit berbeda: usaha sanitasi lebih menitik beratkan kepada faktor-faktor lingkungan hidup manusia, sedangkan higiene lebih menitik beratkan usaha-usahanya kepada kebersihan individu.
Adapun tujuan dari sanitasi makanan yaitu:
  1. Menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit
  2. Mencegah penjualan makanan yang merugikan pembeli
  3. Mengurangi kerusakan/pemborosan makanan
B.   Pengaruh Makanan Terhadap Kesehatan Masyarakat
Makanan merupakan salah satu pokok kebutuhan manusia untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, makanan merupakan hal yang penting bagi manusia. Pentingnya makanan bagi manusia, selain dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari dapat pula dilihat data berikut. Bagi banyak golongan masyarakat 46,84% dari anggaran belanja keluarga dikeluarkan untuk makanan (survey sosial ekonomi 1977, Kantor Sensus dan Statistik DKI Jakarta).
Ditinjau dari segi kesehatan, kegunaan makanan adalah sebagai sumber zat makanan. Zat makanan didalam tubuh mempunyai fungsi:
  1. sumber energi,
  2. zat pembangun,
  3. zat pengatur,
Oleh sebab itu makanan yang cukup diperlukan agar badan mempunyai tenaga yang cukup untuk mempertahankan kehidupan, jasmani dapat tumbuh dengan baik, sehat dan kuat. Kecukupan makanan diperlukan agar tubuh tidak menjadi sakit baik oleh sebab defisiensi atau sebab dari luar.
Dari sudut kesehatan lingkungan, pengaruh makanan terhadap kesehatan yang harus diperhatikan ialah peranan makanan atau minuman sebagai vektor/agen penyakit yang ditularkan melalui makanan yaitu:
  1. Parasit-parasit seperti Taenia saginata, Taenia solium, Diphylobotrium latum, Trichinella spiralis dan sebagainya. Parasit-parasit ini masuk dalam tubuh manusia melalui daging sapi, babi, ikan, yang terkena infeksi dan dimakan tanpa memasaknya cukup lama agar larva-larva parasit yang ada di dalam daging mati.
  2. Mikroorganisme seperti Salmonella typhi, Shigella dysentriae, fever, virus hepatitis dan sebagainya, yang dapat mengkontaminasi makanan dan masuk dalam tubuh manusia.
  3. Toksin yang diproduksi oleh bakteri-bakteri (exo-toxin) yang ada dalam makanan misalnya entero toxin dari Staphylococcus, exo toxin dari Clostridium botulinum.
  4. Zat-zat yang membahayakan kesehatan, dan yang secara ilegal atau tanpa diketahui bahayanya dengan sengaja ditambahkan kepada makanan untuk pengawetan, pewarnaan atau untuk menipu, atau tanpa sengaja seperti insektisida yang dikira gula atau tepung terigu dimasukkan atau dicampurkan kedalam makanan. Dalam kategori ini juga termasuk insektisida atau herbisida yang masih melekat pada sayuran, buah-buahan dan sebagainya, yang diemprotkan untuk memberantas hama makanan (tanaman).
  5. Penggunaan tanaman atau bahan lain yang beracun sebagai bahan makanan, seperti jamur beracun, tempe bongkrek dan sebagainya.
Beberapa faktor yang baik langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap makanan adalah:
  1. air
Erat sekali hubungannya dengan makanan oleh karena air diperlukan dalam semua proses pengolahan makanan. Dalam beberapa hal air sangat menentukan kualitas makanan.
  1. air kotor (sewage)
a.    Berbagai macam bahan organik dan anorganik terlaut dalam air kotor
b.    Merupakan sumber dari kuman-kuman patogen, terutama untuk kuman-kuman yang berasal dari saluran pencernaan.
c.    Berperanan penting sebagai sumber pencemar bagi air dan makanan.
  1. tanah
Tanah yang mengandung mikroorganisme dapat mengkontaminasi makanan dengan cara:
a.    Terbawa oleh alat-alat, masuk kedalam tempat makanan/penyimpanan makanan, akhirnya sampai ke makanan.
b.     Terikat pada bagian tanam-tanaman/sayuran dan sebagainya.
c.    Melalui makanan yang dibungkus dengan bahan/kertas yang terkontaminasi oleh tanah yang mengandung mikroorganisme.
  1. udara
a.    Adanya mikroorganisme di udara karena terbawa oleh partikel-pertikel debu, air atau titik-titik ludah yang disebarkan oleh orang/hewan, batuk atau berbangkis.
b.    Tergantung dari lokasi, musim, pergerakan udara.
  1. manusia
Merupakan sumber patent dari kuman-kuman Staphilococcus aureus, Salmonella, Clostridium perfringens, Enterococcus.
  1. hewan ternak/piaraan
Bakteri-bateri penting pada hewan ternak sering dihubungkan dengan peristiwa keracunan makanan misalnya: Salmonella, Clostridium perfringens.
  1. binatang pengerat
Merupakan ancaman kontaminasi terutama bagi sayur-sayuran dan buah-buahan sejak dipetik, diangkut, disimpan, sampai diolah dan disajikan. Misalnya: Salmonella, Enteritidis.
C.   Kontaminasi Makanan
Sebagai akibat suatu kontaminasi terhadap makanan, pada umumnya akan disertai dengan terjadinya proses pembusukan. Pembusukan tidak selalu oleh adanya kontaminasi, tetapi dapat juga terjadi oleh kegiatan enzim yang sudah terdapat dalam makanan itu sendiri secara alami. Hal ini jelas misalnya terlihat pada buah-buahan yang kelewat masak, akan menjadi busuk.
Yang dimaksud dengan makanan yang busuk adalah makanan yang sudah mengalami proses sedemikian sehingga tidak lagi dimakan oleh manusia. Perlu dibedakan dengan kerusakana makanan yang disebabkan oleh penyebab-penyebab fisik, kimia dan biologis.
Dengan kata lain, kerusakan makanan (makanan yang rusak) meliputi juga makanan yang busuk. Kriteria busuk dapat dibedakan antara satu bangsa dengan bangsa/suku bangsa lain. Misalnya terasi yang dipergunakan oleh hampir seluruh bangsa Indonesia sebagai penyedap makanan, mungkin dianggap oleh bangsa lain sebagai suatu makanan yang busuk sehingga tidak dimakan.
Secara umum dapat dikatakan, suatu makanan yang disebut busuk jika mengandung bakteri-bakteri tertentu atau toksin-toksin yang dihasilkan oleh bakteri tersebut, sehingga jika dimakan menimbulkan keracunan makanan, dan tidak cocok lagi untuk dikonsumsikan kepada manusia, walaupun tidak/belum mengalami proses dekomposisi.
Kriteria bahwa suatu makanan masih cocok untuk dimakan adalah sebagai berikut:
  1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki,
  2. Bebas dari pencemaran disetiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya,
  3. Bebas dari perubahan-perubahan fisik, kimiawi yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari pengaruh enzim, zktivitas mikroba, hewan-hewan pengerat, serangga, parasit dan kerusakan-kerusakan karena tekanan, pembekuan, pemanasan, pengeringan dan sebagainya
  4. Bebas dari mikroorganisme-mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang dihantarkan oleh makanan.
Jadi jika suatu makanan dalam keadaan yang berlawanan dengan kriteria-kriteria tersebut, maka dikatakan sebagai makanan yang rusak atau busuk dan tidak lagi cocok untuk konsumsi manusia.
Kegiatan enzim dan mikroba tidak dikehndaki jika memang tidak diinginkan dan tidak terkendalikan. Misalnya dalam pembuatan susu asam, keju, tempe, kegiatan-kegiatan mikroba dan enzim memeng dikehendaki dan dikendalikan.
Berkenaan dengan terjadinya pembusukan tersebut, makanan dapat dibedakan menjadi tiga golongan atas dasar stabilisasi yang dimilikinya:
  1. Nonperishable food (stable food), yaitu makanan yang stabil, yang tidak mudah rusak, kecuali jika diperlakukan secara tidak baik. Contohnya yaitu gula, macaroni, mie instan, tepung dan makanan kaleng.
  2. Semiperishable food, yaitu makanan yang semi stabil dan tidak mudah membusuk/rusak. Makanan golongan ini tahan terhadap pembusukan dalam waktu yang agak lama (relatif lama), misalnya: roti kering dan makanan kering lainnya, kentang, beberapa jenis sayur-sayuran, makanan beku (disimpan dalam 00 C).
  3. Perishable food, yaitu makanan yang tidak stabil dan mudah membusuk. Termasuk golongan ini adalah ikan, daging, susu, telur, buah-buahan dan sayur-sayuran. 
D.   Infeksi Penyakit Melalui Makanan (Food Borne Disease)
Infeksi penyakit melalui makanan (Food Borne Disease) adalah suatu gejala penyakit yang timbul akibat makan bahan makanan yang mengandung mikroorganisme atau toksinnya (termasuk tumbuh-tumbuhan, bahan kimia, binatang). Food infection ialah gejala penyakit yang timbul karena mikroorganisme masuk dan berkembang biak di dalam tubuh melalui bahan makanan. Food intoxication adalah gejala penyakit yang timbul akibat makan makanan yang mengandung bahan racun.
Sering terjadi letusan penyakit atau keracunan makanan tertentu yang tidak jarang menyebabkan kematian. Keracunan makanan atau penyakit infeksi yang penularannya melalui makanan, biasanya mengenai suatu kelompok masyarakat, bahkan dapat meluas sekali.


Penyakit-penyakit yang ditularkan melalui makanan atau keracunan makanan dapat disebabkan oleh:
  1. Parasit-parasit
a.    Taenia saginata
    1. menyebabkan anaemia dan gejala-gejala syaraf.
    2. pencegahannya dengan memasak daging sapi sampai masak betul, sehingga larva cacing akan mati.
b.    Taenia solium (cacing pita babi)
    1. larva menetap dalam jaringan otot manusia.
    2. kadang-kadang larva sampai ke mata atau otak dan menimbulkan akibat yang gawat, karena tekanan pada jaringan mata atau otak.
    3. pencegahannya dengan memasak daging babi cukup lama, sampai masak betul.
c.    Piphyllobotrium latum
    1. menyebabkan anaemia.
    2. pencegahannya dengan memasak ikan sampai masak betul, atau membekukan sampai -100 C.
d.    Trichinella spiralis
1.    menimbulkan penyakit Trichinosis.
2.    bila larva jumlahnya sangat banyak, dapat berakibat fatal.
3.    pencegahannya yaitu memasak sisa-sisa bahan makanan (garbage) sebelum diberi makan kepada babi, memasak daging babi sampai masak betul, membekukan daging babi pada suhu -150 C selama 20 hari, mengasinkan dan mengasap daging babi, beberapa jenis produk daging babi harus diolah dengan cara yang mematikan larva Trichinella dan pengawasan daging babi dirumah potong. 
  1. Infeksi penyakit dengan makanan sebagai media (Food Borne Infection)
Disebabkan oleh mikroorganisme yang menginfeksi manusia melalui makanan sebagai media.
Misalnya:
Ø  Typhus abdominalis
Ø  Paratyphoid
Ø  Dysentri amoeba
Ø  Dysentria baciler
Pencegahannya yaitu:
1.    memasak semua makanan sampai masak betul
2.    melindungi makanan terhadap kontaminasi oleh insekta dan tikus
3.    pegawai-pegawai tempat makan umum harus tidak berpenyakit dan menjaga kebersihan
4.    menyimpan makanan pada suhu dibawah 60 C atau diatas 600.
  1. Keracunan makanan (Food Poisoning)
Ini disebabkan oleh zat-zat yang sudah ada di dalam makanan pada waktu dimakan. Gejala-gejala keracunan makanan biasanya timbul mendadak dalam waktu 4-12 jam, setelah makan makanan yang terkontaminasi. Gejala-gejala akut berupa: muntah-muntah, sakit perut, diare, menggigil, pusing, sakit kepala dan gastro enteritis. Batas waktu timbulnya gejala-gejala keracunan makanan adalah antara 2-72 jam.
Keracunan makanan sering terjadi, tetapi mortalitas tidak tinggi. Keracunan makanan dapat disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri dan berkembangbiak dalam makanan, misalnya:
a.    Keracunan Staphylococcus
b.    Keracunan botulinus
c.    Keracunan Clostridium perfingens (welchii)
  1. Penggunaan tanaman atau bahan makanan yang mengandung racun, misalnya: singkong dengan racun HCN, jamur, tempe bongkrek dengan racun aflatoksin, dan jengkol.
  2. Penggunaan bahan-bahan yang berbahaya terhadap kesehatan dalam pengolahan makanan, misalnya: zat pewarna, bumbu masak/penyedap makanan, zat untuk pengawetan.
  3. Pestisida dan pupuk buatan yang masih melekat pada sayur atau buah-buahan, waktu penyemprotan hama atau pemupukan misalnya : urea.
  4. Zat-zat kimia yang ditambahkan pada makanan
Keracunan makanan bisa terjadi karena tanpa disengaja/tanpa diketahui ditambahkan zat-zat beracun pada makanan, seperti racun tikus, insektisida, natrium floride yang dikira bubuk susu, barium karbonat yang dikira tepung terigu dan sebagainya.










BAB III
PENUTUP
A.   Kesimpulan
Sanitasi makanan merupakan salah satu bagian yang penting, dalam segala aktivitas kesehatan masyarakat, mengingat adanya kemungkinan penyakit-penyakit akibat makanan. Kebiasaan-kebiasaan tradisionil dalam mengelola makanan masih menduduki posisi yang kuat di masyarakat kita selama belum ada cara pengganti yang berkenan.
Dari sudut kesehatan lingkungan, pengaruh makanan terhadap kesehatan yang harus diperhatikan ialah peranan makanan atau minuman sebagai vektor/agen penyakit yang ditularkan melalui makanan.
Beberapa faktor yang baik langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap makanan adalah: air, air kotor (sewage), tanah, udara, manusia, hewan ternak/piaraan, binatang pengerat.
Sebagai akibat suatu kontaminasi terhadap makanan, pada umumnya akan disertai dengan terjadinya proses pembusukan. Pembusukan tidak selalu oleh adanya kontaminasi, tetapi dapat juga terjadi oleh kegiatan enzim yang sudah terdapat dalam makanan itu sendiri secara alami.
Infeksi penyakit melalui makanan (Food Borne Disease) adalah suatu gejala penyakit yang timbul akibat makan bahan makanan yang mengandung mikroorganisme atau toksinnya (termasuk tumbuh-tumbuhan, bahan kimia, binatang). Food infection ialah gejala penyakit yang timbul karena mikroorganisme masuk dan berkembang biak di dalam tubuh melalui bahan makanan. Food intoxication adalah gejala penyakit yang timbul akibat makan makanan yang mengandung bahan racun.
B.   Saran
Dalam kehidupan manusia dan setiap makhluk hidup, makanan mempunyai peranan penting dan peranan tersebut dapat digambarkan bahwa setiap manusia memerlukan makanan untuk kelangsungan hidupnya, manusia yang terpenuhi semua kebutuhan makanannya akan terlindung dan terjamin kesehatannya dan memiliki tenaga kerja yang produktif, dan bahan makanan dapat merupakan media perkembang biakan kuman penyakit atau dapat juga merupakan media perantara dalam penyebaran suatu penyakit.
Demikianlah kesimpulan dan saran saya sampaikan, apabila ada kesalahan mohon diberikan saran dan kritik dari dosen dan teman-teman sekalian yang sifatnya membangun agar makalah ini menjadi lebih baik. 














DAFTAR PUSTAKA
Kusnoputranto Haryoto Dr, 1985, Kesehatan Lingkungan, DEPDIKBUD Universitas Indonesia, Jakarta.
Kusnoputranto Haryoto Dr, 1985. Pengantar Kesehatan Lingkungan, Bursa Buku FKM-UI, Jakarta.
Daud Anwar, SKM, M.Kes, 2001. Dasar-Dasar Kesling, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanudin, Makassar.



















KATA PENGANTAR
Segala puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya kepada saya sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Sanitasi Makanan dengan baik walaupun dalam bentuk yang sederhana.  
Pada kesempatan ini saya mengucapkan banyak terima kasih kepada dosen yang mengajarkan mata kuliah Kesehatan Lingkungan yang telah memberikan bimbingan kepada saya dalam menyelesaikan tugas ini, selanjutnya ucapan terimah kasih kepada semua orang yang telah membantu saya dalam mengerjakan tugas ini sampai selesai.
Saya mengharapkan adanya saran dan kritik yang sifatnya membangun dari semua pihak, sebagai masukan bagi saya dan jadikan tambahan pengetahuan dan pengalaman untuk pembuatan makalah berikutnya. Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Terima kasih.




Makassar,      Desember 2012













DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………               i
DAFTAR ISI…………………………………………………………….                 ii
BAB I PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang……………………………………………………...                1
B.   Rumusan Masalah………………………………………………….               2
C.   Tujuan penulisan…………………………………………………...               2
BAB II PEMBAHASAN
A.   Pengertian Sanitasi Makanan...........................…………………                 4
B.   Pengaruh Makanan Terhadap Kesehatan Masyarakat.............                6
C.   Kontaminasi Makanan...............................................................                      9
D.   Infeksi Penyakit Melalui Makanan (Food Borne Disease).........                11
BAB III PENUTUP
A.   Kesimpulan………………………………………………………..                  15
B.   Saran……………………………………………………………….                  16
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………..                  17




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar