Selasa, 28 Mei 2013

TUGAS PROPOSAL PERENCANAAN KABUPATEN FLORES TIMUR TAHUN 2013 PROMOTIF DAN PREVENTIF PENYAKIT MALARIA


A.   LATAR BELAKANG
Malaria adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh parasit jenis protozoa dari genus plasmodium yang secara alamiah ditularkan lewat gigitan nyamuk anopheles betina. Ada 4 (empat) spesies yang secara alamiah dapat menyerang manusia yaitu Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae  dan Plasmodium ovale. Penyakit tersebut mudah dikenali dari gejala meriang (panas, dingin, menggigil) atau dengan gejala umum malaria yaitu dingin, panas, berkeringat,dan sakit kepala (Arif M, 2009).
Pada tahun 2009, diperkirakan malaria menyebabkan 781 000 kematian, sebagian besar terjadi pada anak-anak di Afrika. Menurut Laporan Badan Kesehatan Dunia tahun 2010, terdapat 225 juta kasus malaria dan diperkirakan 781 000 meninggal pada tahun 2009, sedangkan pada tahun 2010, sekitar 2,2 milyar orang atau hampir setengah dari populasi dunia berisiko terserang malaria. Setiap tahun terjadi sekitar 216 juta kasus malaria dan diperkirakan 655.000 orang meninggal. Masyarakat yang tinggal di negara-negara termiskin paling rentan terserang malaria. Data ini mengalami penurunan dari 222 juta kasus dan 985 000 kematian pada tahun 2000. Sebagian besar kematian terjadi di antara anak yang tinggal di Afrika di mana seorang anak meninggal setiap 45 detik akibat malaria dan penyakit ini menyumbang sekitar 20% dari semua kematian anak di dunia. Berbagai upaya telah dilakukan dari tahun 2007 sampai sekarang, diperkirakan masih sekitar 2,2 miliar orang hidup di daerah endemis malaria (WHO, 2010).
Penyakit malaria  tahun 2010  menewaskan lebih dari 1 juta orang. Penyakit tersebut disebabkan oleh parasit malaria yang masuk ke dalam aliran darah manusia oleh nyamuk yang terjangkit parasit. Empat parasit malaria yang sering menyebabkan penyakit malaria pada manusia yaitu Plasmodium falciparum yang lebih umum ditemukan di Afrika. Plasmodium malariae yang berkembang di wilayah sub tropis asia memiliki gejala yang tidak terlalu membahayakan. Plasmodium vivax sebelumnya diduga hanya menjangkiti kera, khususnya makaka berekor panjang dan pendek yang ditemukan di hutan Asia Tenggara
Penyakit malaria di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan masyarakat terutama di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan NTT, yang umumnya merupakan daerah mesoendemis sampai hiperendemis malaria. Penyakit malaria masih termasuk dalam sepuluh kelompok penyakit utama yang banyak menyerang masyarakat di Indonesia. Diperkirakan 25% penduduk Indonesia tinggal di daerah yang beresiko tertular penyakit malaria 167 dari 292 kabupaten/kota di Indonesia masih merupakan wilayah endemis malaria (Depkes RI, 2011).
Jumlah kasus penyakit malaria klinis di Provinsi NTT pada tahun 2008, sebanyak 525.791 kasus. Kasus penyakit malaria klinis tertinggi ada di Kabupaten Sumba Barat sebanyak 94.651 kasus, Kabupaten Sikka 87.622 kasus, Kabupaten Ende 75.709 kasus, terendah di Kabupaten TTU sebesar 4.872 kasus, Kota Kupang 9.075 kasus  Kabupaten Negekeo 4.685 kasus. Jumlah angka penyakit malaria positif  di Provinsi NTT pada tahun 2009, sebanyak 120.428 kasus. Angka penyakit malaria positif berdasarkan kabupaten/kota tertinggi ada di Kabupaten Sumba Barat sebanyak 22.216 kasus, angka terendah ada di Kota Kupang sebanyak 695 kasus dan Kabupaten Flores  Timur sebanyak 1.121 kasus (Profil Kabupaten/Kota dan Laporan Subdin PMK NTT Tahun 2009).
Data dari API  menyebutkan bahwa penyakit malaria di kabupaten Flores Timur menempati peringkat pertama dari 10 penyakit. Penyakit  tahuan 2010 terpapat 3.727 kasus paositif dari 6.549 kasus klinis dan  tahun 2009 sebanyak 8.403 kasus klinis dan positif malaria 3.727 kasus kelinis dan seluruhnya diberikan pengobatan, jika di bandingkan dengan tahun 2008 terjadi penurunan kasus klinis  sebesar 27.204 (85,2%) dan positif malaria sebesar 6.515 orang (24,4%) (Profil Dinkes Flotim,2011).
Melihat dari fenomena ini, ada asumsi penyebab tingginya kejadian malaria berhubungan dengan keadaan iklim dan keadaan topografinya. Maka hal ini tentunya akan membawa perubahan yang cukup signifikan bagi masyarakat flores timur.  Secara tidak langsung juga akan mempengaruhi perilaku masyarakat setempat.  Adanya perubahan perilaku masyarakat tentunya akan mempengaruhi gaya hidup.



B.     NAMA KEGIATAN




C.  TUJUAN KEGIATAN

Kegiatan Ini Bernama “ Promotif And Preventif Deseases Of Malariae

a. Tujuan Umum
Menyelamatkan masyarakat dan keluarga dari penyakit malaria yang menimbulkan KLB
b. Tujuan Khusus
   D. TEMA KEGIATAN
Meningkatkan pemahaman, dan perilaku positif masyarakat tentang kesehatan dan cara pencegahan malaria.

        Selamatkan  Warga Lamaholot Dari Belenggu Malaria
E. WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN
 


Kegiatan ini akan dilaksanakan pada :
      Hari / Tanggal      : Kamis, 3 September 2013.
F. SASARAN KEGIATAN
      Tempat                  : Gedung Mandiri  (Jl. Soedirman) Larantuka -NTT

Kegiatan ini ditujukan untuk semua masyarakat kabupaten Flores Timur dengan sasarannya adalah semua warga yang menderita ataupun tidak menerita malaria

G. BENTUK KEGIATAN
         
                                                                      
Kegiatan ini dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan dan pembagian kelabu yang berinsektisida serta pemberian obat anti nyamuk dengan mengambil beberapa materi antara lain yang berkaitan dengan pemerantasan penyakit maria
H.  PELAKSANA KEGIATAN

 

Kegiatan ini akan diselenggarakan oleh panitia pelaksana dari anggota Himpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Jurusan Epidemiologi Kabupaten Flores Timur dan tenaga sukarela.

Larantuka , 13 Agustus  2014

Panitia pelaksana
Promotif And Preventif Deseases Of Malariae


 SARIMAH                                           ARIMIN RAHIM
  KETUA                                             SEKRETARIS




Mengetahui,
PENGURUS HMSKJE KABUPATEN FLORES TIMUR


LAMBERTUS L.KELLEN
Ketua umum

TINJAUAN PUSTAKA



1.    Pengertian Malaria
Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh parasit (Protozoa) dari genus plasmodium yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles betina. Istilah malaria diambil dari dua kata dalam bahasa Italia, yaitu mal artinya buruk dan area atau udara buruk karena dahulu banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk. Penyakit tersebut juga mempunyai beberapa nama lain seperti demam roma, demam rawa, demam tropik dan demam pantai (Arif M, 2008).
Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa dari genus plasmodium yang ditularkan oleh nyamuk anopheles betina, dapat menyerang semua orang. Penduduk yang paling berisiko menderita penyakit malaria adalah balita, ibu hamil dan penduduk non imun yang berada di wilayah endemis. Malaria merupakan penyakit protozoa yang ditularkan melalui gigitan nyamuk anopheles. Penyakit tersebut adalah penyakit yang telah menularkan pada manusia serta menjangkiti 102 negara endemis dengan jumlah populasi lebih dari 2,5 milyar orang menyebabkan 1 hingga 2 juta kematian setiap tahunnya. Penyakit malaria kini telah terbasmi di Amerika Utara, Eropa, dan Rusia dengan  upaya pengendalian yang luar biasa. Penyakit tersebut tampak timbul kembali pada banyak kawasan tropis, karena disamping itu resistensi terhadap pengobatan dan menimbulkan permasalahan disebagian besar daerah endemis malaria.  Malaria tetap menjadi beban utama bagi masyarakat yang tinggal dikawasan tropis (Horisson,2007 ).
2.    Epidemilogi malaria
Epidemiologi malaria adalah pengetahuan yang menyangkut studi tentang kejadian (insidensi, prevalensi, kematian) karena malaria, penyebaran atau penularannya pada penduduk yang tinggal di suatu wialayah pada periode waktu tertentu, beserta faktor yang mempengaruhinya (Widoyono, 2008).
Studi epidemiologi malaria secara garis besar, menyangkut 2 hal    utama yang saling berkaitan:
1.  Host ( Pejamu) :
a.    Manusia (host intermediate)
Penyakit malaria dapat menginfeksi setiap manusia, ada beberapa faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi manusia sebagai penjamu penyakit malaria antara lain: usia/umur, jenis kelamin, suku/ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit sebelumnya, cara hidup, keturunan, kejadian malaria, dan tingkat imunitas.
b.    Nyamuk (host definitif)
Nyamuk anopheles yang menghisap darah hanya nyamuk anopheles betina. Darah diperlukan untuk pertumbuhan telurnya. Perilaku nyamuk sangat menentukan dalam proses penularan malaria. Beberapa sifat dan perilaku sangat penting adalah
1)  Tempat hinggap atau istirahat
a) Eksofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di luar rumah.
b) Endofilik: nyamuk hinggap dan istirahat di dalam rumah.
          2)  Tempat menggigit
a) Eksofagik: lebih suka menggigit di luar rumah.
b) Endofagik: lebih suka menggigit di dalam rumah.
2)  Obyek yang digigit
a) Antrofofilik: lebih suka menggigit manusia.
b) Zoofilik: lebih suka menggigit binatang.
4)  Faktor lain yang penting adalah:
a) Umur nyamuk (longevity) semakin panjang umur nyamuk semakin besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau vektor malaria.
b)   Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit.
2.  Penyebab penyakit (Agent):
Agent atau penyebab penyakit malaria adalah semua unsur atau elemen hidup ataupun tidak hidup dalam kehadirannya bila diikuti dengan kontak yang efektif dengan manusia yang rentan akan memudahkan terjadinya suatu proses penyakit. Agent  Plasmodium, parasit malaria pada manusia di Indonesia adalah: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale. Parasit malaria dalam tubuh manusia berhabitat utama dalam sel darah merah (eritrosit) yang memakan hemoglobin. Plasmodium vivax ada bentuk hepatik yaitu dalam sel-sel hati yang memungkinkan terjadi relaps atau kambuh. Penyebab malaria adalah protozoa dari genus plasmodi (Widoyono, 2008).
Penyakit malaria disebabkan oleh parasit malaria (yaitu suatu protozoa darah yang termasuk genus plasmodium)  yang dibawa oleh nyamuk anopheles. Ada empat spesies plasmodium penyebab malaria di Indonesia yaitu  (Fahmi U,2007).
1.    Plasmodium vivax menyebabkan malaria tertiana memiliki distribusi geografis terluas, termasuk wilayah beriklim dingin, subtropik hingga daerah tropik seperti di negara India dan Amerika Selatan. Demam terjadi selama 48 jam atau setiap hari ke tiga, pada waktu siang atau sore. Masa inkubasi antara 12 hingga 17 hari dan salah satu gejala adalah pembengkakan limpa atau splenomegali.
2.    Plasmodium falciparum. Plasmodium tersebut merupakan penyebab malaria tropika sering di temukan di Afrika. Merupakan penyebab sebagian besar kematian. Memberikan banyak komplikasi dan mudah resisten terhadap pengobatan. Parasit tipe ini juga bisa bersembunyi di dalam hati dan kembali saat kondisi memungkinkan.
3.    Plasmodium ovale, penyebeb malaria ovale yang memberikan infeksi paling ringan dan sering sembuh dengan sendirinya.
4.    Plasmodium malariae, penyebab malaria kuartana. Umumnya terdapat pada daerah gunung, dataran rendah pada daerah tropik.
3.  Lingkungan (Environment)
Lingkungan adalah tempat  manusia dan nyamuk berada. Nyamuk berkembang biak dengan baik bila lingkungannya sesuai dengan keadaan yang dibutuhkan oleh nyamuk untuk berkembang biak. Nyamuk anopheles sangat cocok pada daerah perbukitan yang banyak terdapat hutan dan perkebunan. Faktor suhu udara geografis (ketinggian dari permukan laut, musim) dapat berpengaruh pada kemampuan hidup parasit dalam nyamuk vektor. Plasmodium tidak bisa hidup dan berkembang pada suhu < 16 0c. Kelembaban udara 60%-80% optimal untuk hidup nyamuk dengan umur panjang. Vektor anopheles semakin padat (misalnya hitungan jumlah nyamuk vektor rata-rata yang menggigit orang per jam), semakin antropofilik (lebih suka menggigit dan mengisap darah manusia), semakin panjang umurnya (> 2 minggu), dan semakin rentan terhadap infeksi dengan parasit malaria, maka semakin besar potensinya akan terjadi KLB (Kejadian Luar Biasa) malaria (Fahmi U, 2007).


4.    Gejala  penyakit malaria
Gejala klinis malaria biasanya terdiri dari 2 stadium yang berurutan yaitu stadium dingin, stadium demam, dan stadium berkeringat.
a.  Stadium dingin (cold stage)
Stadium tersebut mulai dengan menggigil dan perasaan yang sangat dingin. Penderita biasanya menutupi tubuhnya dengan segala macam pakaian dan selimut yang tersedia. Nadi cepat tetapi lemah, bibir dan jari-jari pucat atau sianosis, kulit kering dan pucat, penderita mungkin muntah dan pada anak-anak sering terjadi kejang. Stadium tersebut berlangsung antara 15 menit sampai 1 jam.
b.    Stadium demam ( hot stage)
Stadium tersebut penderita merasa kepanasan, muka merah, kulit kering dan terasa sangat panas seperti terbakar, sakit kepala, mual serta muntah. Nadi menjadi kuat, sangat haus dan suhu badan dapat meningkat sampai 410c.  Stadium tersebut berlangsung antara 2-12 jam, demam disebabkan karena pecahnya sizon darah yang telah matang dan masuknya merosoit darah ke dalam aliran darah.
            c.  Stadium berkeringat (sweating stage)
Stadium tersebut penderita berkeringat banyak sekali, sehingga tempat tidurnya basah, kemudian suhu badan menurun dengan cepat, kadang sampai di bawah normal. Penderita dapat tidur dengan nyenyak, badan terasa lemah setelah bangun. Stadium ini berlangsung 2-4 jam.  Gejala tersebut tidak selalu ditemukan pada setiap penderita, dan ini tergantung pada spesies parasit, umur, dan tingkat imunitas penderita (Sutisna, 2009).
                 Tabel 1. Periode Prepaten dan Masa Inkubasi Plasmodium
Jenis Plasmodium
Periode Prepaten
Masa Inkubasi
    P. Vivax
12,2 hari
12-17 hari
P. Falciparum
11 hari
9-14 hari
P. Malariae
22,7 hari
18-40 hari
P. Ovale
12 hari
16-18 hari
Sumber: Zubersafawi. 2009. Membebaskan Negeri dari  Malaria.
1.    Cara Penularan Malaria
Penyakit malaria ditularkan melalui 2 cara yaitu secara alamiah dan non alamiah: (Rampengan, 2009).
1.    Secara Alamiah
Penularan melalui gigitan nyamuk anopheles yang  mengandung parasit malaria.
2.    Secara Non alamiah
Penularan yang bukan melalui gigitan nyamuk anopheles. Berikut beberapa penularan malaria secara non alamiah: (Widoyono, 2008)
a.    Malaria Bawaan (Kongenital)
Malaria Kongenital adalah malaria pada bayi yang baru dilahirkan karena ibunya menderita malaria. Penularan terjadi karena adanya kelainan pada sawar plasenta (selaput yang melindungi plasenta). Penularan dari ibu kepada bayinya juga dapat melalui tali pusat. Gejala pada bayi yang baru lahir berupa demam, iritabilitas (mudah terangsang sehingga sering menangis), pembesaran hati dan limpa, anemia, tidak mau makan atau minum, kuning pada kulit dan selaput lender.
b.    Penularan Secara Mekanik
Penularan secara mekanik adalah infeksi malaria yang ditularkan melalui transfusi darah dari donor yang terinfeksi malaria, pemakaian jarum suntik secara bersama pada pecandu narkoba atau melalui transplantasi organ.
c.    Penularan Secara Oral
penularan secara oral pernah dibuktikan pada ayam (Plasmodium gallinasium), burung dara (Plasmodium relection) dan monyet (Plasmodium knowlesi).


d.    Siklus hidup plasmodium penyebab malaria





Gambar 1. Siklus hidup plasmodium penyebab malaria
Dalam siklus hidupnya plasmodium penyebab malaria mempunyai dua hospes yaitu pada manusia dan nyamuk. Siklus aseksual plasmodium yang berlangsung pada manusia disebut skizogoni dan siklus seksual plasmodium yang membentuk sporozoit didalam nyamuk disebut sporogoni.
a.  Siklus Hidup Plasmodium, Siklus aseksual
Sporozoit infeksius dari kelenjar ludah nyamuk anopheles betina dimasukkan kedalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Dalam waktu tiga puluh menit jasad tersebut memasuki sel-sel parenkim hati dan dimulai stadium eksoeritrositik dari pada daur hidupnya. Didalam sel hati parasit tumbuh menjadi skizon dan berkembang menjadi merozoit  (10.000-20.000 merozoit, tergantung spesiesnya) . Sel hati yang mengandung parasit pecah dan merozoit keluar dengan bebas, sebagian di fagosit. Oleh karena prosesnya terjadi sebelum memasuki eritrosit maka disebut stadium preeritrositik atau eksoeritrositik yang berlangsung selama 2 minggu. Pada Plasmodium Vivax dan Ovale, sebagian tropozoit hati tidak langsung berkembang menjadi skizon, tetapi ada yang menjadi bentuk dorman yang disebut hipnozoit. Hipnozoit dapat tinggal didalam hati sampai bertahun-tahun. Pada suatu saat bila imunitas tubuh menurun, akan menjadi aktif sehingga dapat menimbulkan relaps (kekambuhan).
Siklus eritrositik dimulai saat merozoit memasuki sel-sel darah merah. Parasit tampak sebagai kromatin kecil, dikelilingi oleh sitoplasma yang membesar, bentuk tidak teratur dan mulai membentuk tropozoit, tropozoit berkembang menjadi skizon muda, kemudian berkembang menjadi skizon matang dan membelah banyak menjadi merozoit. Dengan selesainya pembelahan tersebut sel darah merah pecah dan merozoit, pigmen dan sisa sel keluar dan memasuki plasma darah. Parasit memasuki sel darah merah lainnya untuk mengulangi siklus skizogoni. Beberapa merozoit memasuki eritrosit dan membentuk skizon dan lainnya membentuk gametosit yaitu bentuk seksual (gametosit jantan dan betina) setelah melalui 2-2 siklus skizogoni darah.
b.  Siklus Hidup Plasmodium, Siklus seksual

Terjadi dalam tubuh nyamuk apabila nyamuk anopheles betina menghisap darah yang mengandung gametosit. Gametosit yang bersama darah tidak dicerna. Pada makrogamet (jantan) kromatin membagi menjadi 6-8 inti yang bergerak kepinggir parasit. Dipinggir ini beberapa filamen dibentuk seperti cambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet. Pembuahan terjadi karena masuknya mikrogamet kedalam makrogamet untuk membentuk zigot. Zigot berubah bentuk seperti cacing pendek disebut ookinet yang dapat menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung. Ditempat ini ookinet membesar dan disebut ookista. Didalam ookista dibentuk ribuan sporozoit dan beberapa sporozoit menembus kelenjar nyamuk dan bila nyamuk menggigit/ menusuk manusia maka sporozoit masuk kedalam darah dan mulailah siklus pre eritrositik.
2.    Pencegahan dan Pengobatan Malaria
Kegiatan yang dapat dijalankan untuk mengurangi malaria yaitu: (Widoyono, 2008):

1.    Menghindari gigitan nyamuk malaria
Daerah pedesaan  yang banyak  terdapat sawah, rawa-rawa atau tambak ikan, disarankan agar memakai baju berlengan panjang, celana panjang saat keluar rumah terutama pada malam hari. Mereka yang tinggal di daerah endemis malaria agar memasang kawat kasa dijendela dan ventilasi rumah,serta menggunakan kelambu pada saat tidur. Masyarakat dapat juga memakai obat anti nyamuk saat tidur dimalam hari untuk mencegah gigitan nyamuk malaria.
2.    Membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa
Cara membunuh jentik dan nyamuk malaria dewasa dapat dilakukan beberapa tindakan berikut ini:
a.  Penyemprotan rumah
Sebaiknya penyemprotan rumah-rumah di daerah endemis malaria dengan insektisida dilaksanakan dua kali dalam setahun dengan interval waktu enam bulan.
b.  Larvaciding
Larvaciding merupakan kegiatan penyemprotan rawa-rawa yang potensial sebagai tempat perindukan nyamuk malaria.
c.  Biological control
 Biological control adalah kegiatan penebaran ikan kepala   timah dan ikan guppy digenangan air yang mengalir dan persawahan. Ikan-ikan tersebut berfungsi sebagai pemangsa jentik-jentik nyamuk malaria.
3.    Mengurangi tempat perindukan nyamuk malaria
Tempat perindukan nyamuk malaria bermacam-macam, tergantung spesies nyamuknya. Daerah endemis malaria, masyarakat  perlu menjaga kebersihan lingkungan. Tambak ikan yang kurang terpelihara harus dibersihkan, parit-parit  yang terisi air payau harus ditutup, agar dapat mengurangi tempat perkembangbiakan larva nyamuk malaria.
4.    Pemberian obat pencegahan malaria
Pemberian obat pencegahan (Profilaksis) malaria bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi, serta timbulnya gejala penyakit malaria. Orang yang akan berpergian kedaerah-daerah endemis malaria harus minum obat anti malaria sekurang-kurangnya seminggu sebelum keberangkatannya sampai empat minggu setelah orang tersebut meninggalkan daerah endemis malaria.
Obat anti malaria seperti: kina, paludrine, chloroquine, primaquin, semua plasmodium yang terdapat dalam tubuh penderita dapat dimusnakan. Obat tersebut dapat pula dipakai sebagai usaha pencegahan (prophylactic) sebelum orang pergi ke daerah malaria dan selama berada di daerah malaria (widoyono, 2008).
                                                                    

IDENTIFIKASI MASALAH

                  Di dalam ilmu Epidemiologi ada 3 faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya malaria yaitu faktor Host ( Manusia ), faktor Agent  (Plasmodium ) dan faktor Environment ( Lingkungan ). Bila ke 3 faktor ini terjadi ketidak seimbangan  antara faktor satu dengan faktor lainnya, maka keadaan inilah yang dapat menyebabkan timbulnya kejadian malaria.

                  Dari ke 3 faktor tersebut, faktor Host sangat besar pengaruhnya didalam kejadian malaria. Hal ini disebabkan karena selama manusia mampu menjaga keseimbangan antara ke 3 faktor tersebut maka kejadian malaria tidak akan terjadi. Ini menunjukkan bahwa perilaku sangat besar pengaruhnya didalam kejadian malaria.maka kejadian malaria di kabupaten flores timur kami melihat dari berbagai aspek atau sudut pandang sebagai seorang survailans di daerah endemik penyakit tersebut antara lain :

Lingkungan
Kondisi lingkungan berhubungan erat dengan kesehatan manusia. Udara, air, tanah, dan hewan di lingkungan kita dapat menjadi penyebab timbulnya penyakit. Apalagi jika tidak dikelola dengan baik.
Dinas Kesehatan unit Puskesmas menjelaskan pengertian sehat menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) adalah keadaan yang seimbang baik mental, sosial, fisik, tanpa adanya kecacatan. Faktor-faktor yang mempengaruhi keseimbangan di antaranya, pertama faktor agent atau disebut pula faktor penyebab penyakit dimana faktor ini yang menjadi penyebab dari pada adanya penyakit. Kedua faktor host yaitu manusia sebagai objek penyakit. Ketiga adalah faktor lingkungan dimana lingkungan adalah sebagai medianya.
Manusia dalam hal ini sebagai host atau objek dari suatu penyakit. Penyakit di dalam manusia sangat dipengaruhi oleh manusia itu sendiri. Bagaimana sikap atau perilaku manusia terhadap lingkungan. Agen yang bisa menyebabkan manusia itu bisa sakit terdiri dari dua macam yang pertama yang ada dalam tubuh manusia itu sendiri misalnya zat kimia indogent dan kedua adalah yang ada diluar tubuh manusia seperti zat kimia eksogent.
Jenis penyakit yang berbasis lingkungan diantaranya ISPA, TBC paru, Diare, Polio, Campak, Cacingan, malaria, Flu Burung, Pes, Antrax, DBD, Chikungunya, Malaria, filariasis.
“Beberapa faktor penghambat yang bisa menyebabkan terjadinya penyakit tersebut adalah seperti pertama faktor kesadaran manusia terhadap kepentingan kesehatan dan perlakuan terhadap lingkungannya. Kedua faktor kepadatan penduduk yang cukup padat sehingga faktor penyebarannya akan sangat cepat. Ketiga faktor kultur atau kebiasaan atau kepercayaan yang merugikan, misalnya kebiasaan tidak memakan ikan padahal ikan merupakan sumber makanan yang cukup baik.
Dalam upaya pemberantasan atau pencegahan penyakit-penyakit berbasis lingkungan ini harus ditangani secara bersama-sama tidak bisa secara sendiri-sendiri. Maka dari itu diperlukan promosi kesehatan melalui berbagai media, baik cetak, elektronik, ataupun di pertemuan-pertemuan. Pengaturan lingkungan dengan system management lingkungan yang cukup baik diharapkan lingkungan akan sangat mendorong terciptanya lingkungan yang sehat, sehingga tidak menjadi sumber penyakit bagi manusia. Diadakannya perindungan secara khusus misalnya dengan adanya Imunisasi yang dilakukan secara rutin dan konsisten, serta pemulihan dan pelestarian lingkungan hidup.
Lingkungan mempunyai peran yang penting dalam penyebaran malaria lingkungan yang tempat nmyamuk yang sering di jadikan sebagai tempat bersarangnya adalah biasanya lembab serta ada kubangan air yang mengenang karena nyamuk penyebab malaria ini siklus hidupnya suka bertelur dan bersarang pada tempat-tempat tersebut. Masyarakat yang kurang memperhatikan sanitasi lingkungannya dapat menyebabkan vektor penyakit ini berkembang biak.
       Lingkungan fisik,
Terdiri dari suhu, kelembaban, hujan, ketinggian, angin, sinar matahari, arus air dan kadar garam. Suhu mempengaruhi perkembangan parasit dalam nyamuk. Suhu yang optimun berkisar antara 20 dan 30ÂșC. Makin tinggi suhu makin pendek masa inkubasi ekstrinsik (sporogoni) dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.
Kelembaban yang rendah memperpendek umur nyamuk, meskipun tidak berpengaruh pada parasit. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk, pada kelembaban lebih tinggi menyebabkan aktifitas nyamuk menjadi lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria.
Lingkungan biologik,
Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva karena dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan mahluk hidup lainnya, serta adanya tambak ikan juga akan mempengaruhi populasi nyamuk.

c)      Lingkungan sosial budaya,
kebiasaan beraktifitas manusia untuk berada di luar rumah sampai tengah malam akan memudahkan nyamuk untuk menggigit, perilaku masyarakat terhadap malaria akan mempengaruhi kesediaan masyarakat untuk memberantas malaria antara lain dengan menyehatan lingkungan, menggunakan kelambu, memasang kawat kasa pada rumah dan menggunakan obat nyamuk. Berbagai kegiatan manusia seperti pembuatan bendungan, pembuatan jalan, pertambangan dan pembangunan pemukiman baru/transmigrasi akan menyebabkan perubahan lingkungan yang menguntungkan malaria (Dinkes NTT,2003) berdasarkan hasil pengamatan dan studi kepustakaan mengenai daerah timur di NKRI yaitu tidak asing lagi adalah kabuapten flores timur,dengan melihat keadaan lingkungan dan topografi yang begitu sulit,sanitasi lingkungan yang belum begitu baik maka sangat mempengaruhi sartang nyamuk anaopheles dan mudah meyerang setiap anggota atau masyarakat flores timur, yang dilihat dari kondisi tempat pembuangan sampah, saluran pembuangan limbah. Dari komplikasi data seluruh perumahan yang diperiksa maka dapat disajikan dalam bentuk grafik.
Grafik 1.2. proporsi rumah sehat di kabupaten flores timur tahun 2013

Lingkungan juga merupakan salah satu faktor pemicu terjadinya dan tempat dimana berkembang biaknya vektor dilihat dari sanitasi lingkungan masyarakat terutama tempat penyediaan air, TPS dan SPAL dari 56.960 rumah yang diperiksa bertahap selama 3 bulan.




Grafik 2.2. kepemilikan sanitasi lingkungan di kabupaten flores timur tahun 2013.
1.    Prilaku
Prilaku merupakan salah satu indikator yang sanagt penting dalam sebuah masalah kesehatan,terkait dengan maslah mengenai kejadian malaria ini maka prilaku sering berkaitan dengan kebiasaan,yang mana kebiasaan berada di luar rumah pada malam hari,tidak menggunakan kelambu ,tidak menggunakan obat antinyabuk,kebiasan  mengganung  pakian di dalam rumah,hal ini menyebapkan sarang atau tempat vektor .ada juga di ihat dari prilaku atau kebiasan masyarakat menampung air di tempat penampungan yang terbuka,buang sampah sembarangan,Jamban tidak bersih,SPAL tidak di bersikan ini merupkan salah satu faktor yang meyebapkan penyakit.




2.    Pendidikan
Tingkat pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kejadian malaria di kabupaten flores timur, diakibatkan karena SDM yang lemah.

 

3.    Layanan kesehatan
Dalam rangka meningkatkankan peran serta msyarakat dal pembiyaan kesehatan pra upaya yang di lakukan oleh dinas keseahtan dan pemda Flotim yaitu dana sehat,jpkm dan asuransi kesehatan lainya termasuk kartu sehata bagi pendudk miskin dan warga yang terserang penyakit selain itu juga upya pemerintah membangun tempat pelayanan kesehatan yaitu,poskesdes,puskesmas pembantu yang memerlukan dana yang cukup besar dan tidak terlepas dari swadaya masyarakat.selain itu juga seperti yang di katakan oleh kepala dinas kesehatan kabupaten Flores timur bahwa walaupaun sudah ada tepat kesehatan sudah berda di pelosok samapi di daerah terpencil namum masih kurang tenaga ksehatan yang meyebar .dengan julmlah puskesmas pemantu dengan puskemas induk di lihat dari perbandingan 1:2,3 artinya setiap 1 puskesmas di dukung 2 – 3 puskesmas pembantu dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
4.    Keadaan kesehatan
Keadaan kesehatan masyarakat tergantung dari pengetahuan masyarakat tentang suatu penyakit dan peran serta dari tenaga kesehatan untuk menjaga kesehatan,di samping itu juga di dukung dengan kepedulian masyarakat untuk hidup sehat dan bebas dari penyakit,seperti yang di tuturakan oleh Edu B. Bahwa keadan kesehatan masyaraakat Flotim sekarang sangat menurun karena banyak penyakit yang menyerang warga pada umumnya balita,Bumil yaitu penyakit malaria,penykit ini sering di derita oleh warga miskin yang tinggal di daerah yang terpencil dan keadaan lingkunganya tidak mendukung sperti tempat penyimpanan air bersih,kebersiahn halaman dan lain sebagainya.


5.    Keadaan Pemerintahan
Pemerintahan kabupaten flotim juga tidak tinggal diam akan maraknya masalah kesehatan yang semakin signifikan dimana diantaranay adalah penyakit malaria maka pemerintah kabupaten juga mempunyai andil untuk menanggulangi bergagai isu-isi kesehatn yang terkait dengan derajat kesehatan masyarakat sesuai dengan SKN adapun upaya pemeritah Kab.Flotim  yang bekerja sama dengan Dinkes Flotim yaitu :
a)    Pemantapan manajemen kesehatan di kbupaten
b)    Konsulidasi  seluruh sumber daya yang ada termasuk budaya kerja sumber daya manusia.
c)    Pemantapan kapasitas dan mutu pelayanan kesehatan melalui pendayagunaan potensi seluruh sumber daya yang ada dengan pendekatan paradigma sehat.
d)    Menempatkan SIM sehingga sehingga setiap keputusan pengambilanya berdasrakan fakta.
e)    Megembangan sistem pembiayaan yang serasi dan sesuai kemampuan bayar masyarakat


6.    Kependudukan
Pertumbuahan dan perkembangan penduduk di kabupaten flores timur seperti yang di langsir AMI bahwa kepadatan penduduk di kabupaten flores timur tidaak berpengaruh dengan kejadian malaria,hal ini juga sama persis dengan penelitian seorang mahasiwa UGM melalui perengakat lunak dengan mengunakan GIS  mengungkapkan bahwa tidak ada hubungan mengenai kepadatan penduduk dengankejadian malaria di soewkarto.
Jumlah penduduk kabupaten flores timur berdasarkansensus penduduk dari badan pusat satatistik kabupaten flores timur pada tahun 2010 adalah  232.312 jiwa jika di bandingkan dengan tahun 2009 adalah 233.811 jiwa terjadi penurunan jumlah penduduk yaitu sebanyak 1.499 jiwa (0.64%).penyebaran penduduk belum merata ,rata- rata kepadatan penduduk flores timur tercatat sebesar 127.9 jiwa setiap km2.berdasrakan data banyaknya rumah tangga dan rata- rata anggoatya rumah tangga menurut kecamatan di kabupaten flores timur tahun 2010 rata- rata penduduk tercatat sebesar 4,5 jiwa sedangakan jumlah penduduk tertinggi di kabupaten flores timur adalah kecamatan larantuka sebanyak 37.271 jiwa dan terendah kecamatan demon pagong sebesar 4.288 jiwa.
7.    Sosial Budaya
Masalah kesehatan merupakan masalah kompleks yang merupakan resultante dari berbagai masalah lingkungan yang bersifat alamiah maupun masalah buatan manusia, social budaya, perilaku, populasi penduduk, genetika, dan sebagainya. Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being , merupakan
Resultante dari 4 faktor yaitu :
1)    Environment atau lingkungan, behaviour atau perilaku,
2)    Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
3)    Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
4)    Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derjatderajatkesehatanmasyarakat.
berasarakan hasil penagmatan dan pelakukaan pendekatan secara komunikatif maka ada beberpa hal yang kami simpulakn bahwa masyarakat flores timur masih 25% menggunakan kebudayaannya sebagai tolok ukur untuk menyebuhkan penyakit malaria,hal ini sering di temukan di daerah terpencil karena kurangnya pengetahuan masyarakat,dan untuk menyembukan penyaki malaria mereka sering menggunakan prespsi mereka masing – masing sesuai dengan kepercayaan di kampung halaman.






















PERENCANAAN



        




a.  Rancangan Pendekatan
  Bertitik tolak dari identifikasi masalah mengenai penyakit malaria maka perlu adanya rancangan pendekatan.  Pendekatan yang dilakuakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan pragmatis  untuk untuk meliahat sejauh mana masyarakat yang menderita malaria klinis   sebanyak 14.952  dan positif malaria sebanyak 5.156 dan di lakukan pemerikasan darah oleh pihak laboraturim ternyata yang benar sudah para sebanyak 34% kemudian dari yang menderita positif malaria yang di obati  memperoleh pengobatan untuk mencegah malaria .
b.    Prioritas Masalah
Dilihat dari kejadian tersebut maka yang sangat mempengaruhi kejadian malaria adalah timngkat pengetahuan,lingkungan,sosial budaya dan prilaku.











RINCIAN ANGGARAN PANITIA PELAKSANA
          PROMOTIF AND PREVENTIF DESEASES OF MALARIAE


1.    Sewa gedung untuk penyuluhan                                 = Rp.   5.000.000
2.    Biaya operasional @ 10mengantar surat undangan      = Rp.  1.000.000
3.    Pengadaan pesan – pesan kesehatan                        = Rp.   5.000.000
4.    Dokumentasi                                                                     = Rp.      400.000
5.    Konsumsi  + snack                                                           = Rp.   2.500.000
6.    Id card panitia                                                                    = Rp.      100.000
7.    Spanduk                                                                             = Rp.      100.000
8.    Pengadaan kelambu insektisida @ Rp. 150.000        = Rp.  50.000.000
9.    Pengadaan obat anti nyamuk @ Rp.2.0000                = Rp.    1.000.000
Jumlah                                                                               =  Rp. 65.100.000.


Makassar, 13 April 2013




     Lorensius Lexi Riong
        Kordinator






PREVENTIVE AND PROMOTIVE DESEASES OF MALARIAE









OLEH :
TIM INVESTIGASI
LAMBERTUS L. KELEN            10. 101. 097
SARIMAH                                      10. 101. 301
HERY JUNIARDI M.                    10 .101. 568
ARMIN RAHIM                              10 .101. 851
OKTAVIANUS LERA M.             10. 101. 170
LAURENSIUS LEKSI RIANU    10. 101. 075




FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013

PROMOTIF AND ISOLATION
KUSTA OF DESEASES 










OLEH :
TIM INVESTIGASI
MELINDA                                       10. 101. 220
RISMAYANTI GIRIK ALLO        10. 101. 219
SELVITA                                        10 .101. 243
RAHAYU WULANDARI              10 .101. 209
FEBRIAH AMILUDDIN               10. 101. 249
BERGITA                                       10. 101.
YOHANES B. MOLA                   10. 101.



FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS INDONESIA TIMUR
MAKASSAR
2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar